•Lokasi :
Shibuya, Tokyo, didedikasikan untuk memuja arwah Kaisar
Meiji dan istrinya,Permaisuri Shōken
•Kawasan yang
sangat sakral bagi masyarakat penganut
Shinto. kuil yang
paling dihormati dan dicintai oleh masyarakat Jepang yang
mendapat kunjungan lebih dari 8 juta
orang peziarah per tahunnya.
![]() |
| Gambar 1 Kuil Meiji Jingu |
•Tempat
yang paling populer untuk melakukan hatsumōde di Tokyo.
Sejarah Kuil
Meiji Jingu
Setelah kematian Kaisar Meiji pada tahun 1912, Parlemen Jepangmelayangkan resolusi untuk mengenang peran Sang Kaisar dalam Restorasi Meiji. Sebuah taman bunga iris di area Tokyo di mana Sang Kaisar dan permaisurinya diketahui pernah datang berkunjung dipilih sebagai lokasi bangunan kuil. Konstruksi dimulai pada 1915, kuil ini dibangun dalam corak tradisional Nagarezukuri serta tersusun sebagian besar dari cemara jepang dan tembaga. Formalnya kuil ini diresmikan pada 1920, diselesaikan pada 1920, dan secara resmi tamannya selesai dibuat pada 1926.Bangunan asli kuil hancur pada saat Serangan Udara Tokyo pada Perang Dunia II. Lalu kuil ini direkonstruksi kembali atas upaya dan dana dari publik yang selesai pada Oktober 1958.Kuil Meiji tak hanya menjadi simbol dari kecintaan masyarakat Jepang kepada Kaisar Meiji dan permaisurinya, tetapi juga sebagai bukti bersatunya kembali antara alam dan manusia.Dalam agama Shinto, keseimbangan antara alam dan dunia memang menjadi ajaran utama.Hal ini dikarenakan karena daerah hijau ini diingatkan kembali mengenai lokasi serta lingkungan kuil tersebut berada di tengah-tengah hiruk pikuk polusi dan karbon di kota Tokyo.
Restorasi Meiji
Restorasi Meiji (明治維新 Meiji-ishin), dikenal juga dengan sebutan Meiji Ishin,Revolusi Meiji, atau Pembaruan Meiji, adalah serangkaian kejadian yang berpuncak pada pengembalian kekuasaan di Jepang kepada Kaisar pada tahun 1868. Restorasi ini menyebabkan perubahan besar-besaran pada struktur politik dan sosial Jepang, dan berlanjut hingga zaman Edo (sering juga disebut Akhir Keshogunan Tokugawa) dan awal zaman Meiji.Restorasi Meiji terjadi pada tahun 1866 sampai 1869, tiga tahun yang mencakup akhir zaman Edo dan awal zaman Meiji. Restorasi ini diakibatkan oleh Perjanjian Shimoda dan Perjanjian Towsen Harris yang dilakukan oleh Komodor Matthew Perry dari Amerika Serikat.Penyebab Restorasi Meiji begitu banyak. Jepang baru menyadari betapa terkebelakangnya mereka dibandingkan negara-negara lainnya di dunia setelah datangnya Komodor Amerika Serikat Matthew C. Perry yang memaksa Jepang membuka pelabuhan-pelabuhan untuk kapal-kapal asing yang ingin berdagang. Komodor Perry datang ke Jepang menaiki kapal super besar yang dilengkapi persenjataan dan teknologi yang jauh lebih superior dibandingkan milik Jepang saat itu. Para pemimpin Restorasi Meiji bertindak atas nama pemulihan kekuasaan kaisar untuk memperkuat Jepang terhadap ancaman kekuatan-kekuatan kolonial waktu itu. Kata Meiji berarti kekuasaan pencerahan dan pemerintah waktu itu bertujuan menggabungkan "kemajuan Barat" dengan nilai-nilai "Timur" tradisional.
Kaisar Meiji yang masih muda bertemu dengan perwakilan negara-negara asing pada akhir Perang Boshin, 1868-1870
Restorasi Meiji mengakselerasi industrialisasi di Jepang yang dijadikan modal untuk kebangkitan Jepang sebagai kekuatan militer pada tahun 1905 di bawah slogan "Negara Makmur, Militer Kuat" (富国強兵 fukoku kyōhei). Pemerintah Oligarki Meiji yang bertindak atas nama kekuasaan kaisar memperkenalkan upaya-upaya mengonsolidasi kekuasaan untuk menghadapi sisa-sisa pemerintahan zaman Edo, keshogunan,daimyo, dan kelas samurai.
Pada tahun 1868, semua tanah feodal milik Keshogunan Tokugawa disita dan dialihkan di bawah "kendali kekaisaran"di bawah kekuasaan pemerintahan baru Meiji.
Pada tahun 1869, daimyo Domain Tosa, Domain Hizen, Domain Satsuma, dan Domain Chōshū yang telah berjasa melawan kekuasaan keshogunan, dibujuk untuk mau "mengembalikan domain mereka kepada kaisar." Dengan adanya penghapusan wilayah domain, maka untuk pertama kalinya tercipta pemerintahan Jepang yang terpusat dan berkuasa di semua wilayah negeri.
Pada tahun 1871, semua daimyo dan mantan daimyo dipanggil untuk menghadap kaisar untuk menerima perintahpengembalian semua domain kepada kaisar. Sekitar 300 domain (han) diubah bentuknya menjadi prefektur yang dipimpin oleh gubernur yang ditunjuk oleh negara.
Pada tahun 1888, beberapa prefektur telah berhasil dilebur menjadi satu sehingga jumlah prefektur menciut menjadi 75 prefektur.
Kompleks Kuil
Kuil Meiji terletak di dalam hutan yang melingkupi area seluas 700.000 meter persegi (kira-kira 175 are). Area ini ditutupi oleh hutan evergreen yang terdiri dari 120.000 pohon dengan 365 spesies yang berbeda di mana pohon-pohon ini disumbang oleh masyarakat Jepang dari berbagai kalangan pada saat kuil ini mulai didirikan. Hutan ini sebagian besar dikunjungi sebagai tempat rekreasi dan relaksasi di pusat kota Tokyo. Kuil ini sendiri terdiri dari dua area utama.
Naien
Naien merupakan wilayah bagian dalam kuil di mana bangunan kuil terpusat dan termasuk museum harta karun yang menyimpan tulisan-tulisan Kaisar dan sang permaisuri. Museum harta karun ini dibangun dalam corak Azukezukuri.
Gaien
Gaien merupakan wilayah bagian luar kuil yang termasuk Galeri Gambar Peringatan Meiji yang memuat koleksi 80 mural besar yang mengilustrasikan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Sang Kaisar dan pasangannya. Juga termasuk fasilitas olah raga yang bermacam-macam yang di antaranya adalah stadion nasional Jepang. Selain itu juga termasuk Aula Peringatan Meiji yang pada mulanya digunakan sebagai tempat pertemuan pemerintah, di mana diskusi mengenai konsep Konstruksi Meiji pun dilaksanakan di sana pada akhir abad ke-19. Sekarang tempat ini dipakai sebagai tempat pernikahan dalam tradisi agama Shinto.
Tradisi Setsubun
Setsubun (節分?, pembagian musim) adalah nama perayaan sekaligus istilah yang digunakan di Jepang untuk hari sebelum hari pertama setiap musim. Dalam satu tahun terdapat 4 kali hari pertama setiap musim: risshun, rikka, rishū, dan rittō. Istilah "setsubun" sekarang hanya digunakan untuk menyebut hari sebelum risshun (hari pertama musim semi) sekitar tanggal 3 Februari, banyak sekali tradisi tersebut dilakukan untuk mengusir oniyang dipercaya lahir pada hari setsubun ini, berikut :
Melempar Kacang-Kacangan
Kacang yang sudah disangrai matang dilempar-lemparkan ke arah pemeran "oni". Tradisi melempar kacang merupakan perlambang keinginan bebas dari penyakit dan selalu sehat sepanjang tahun. Oni korban lemparan kacang dipercaya akan lari karena kesakitan. Orang juga memakan kacang kedelai dalam jumlah yang sama dengan usia orang tersebut.
Tradisi Setsubun adalah perpaduan upacara mengusir arwah jahat di istana yang berasal dari tradisi Tiongkok dan upacaraMamemaki (melempar kacang) yang memiliki tujuan mirip-mirip di kuil agama Buddha dan Shinto. Kacang yang dilempar-lemparkan biasanya adalah kedelai, tapi sering diganti dengan kacang tanah.Kacang dilempar-lemparkan sambil mengucapkan mantera "Oni wa soto, fuku wa uchi" (Oni ke luar, keberuntungan ke dalam). Di beberapa daerah yang memiliki kuil yang dipercaya ditinggali oni, mantera dibalik menjadi "Oni wa uchi, fuku wa soto (Oni ke dalam, keberuntungan ke luar)," atau kedua-duanya diminta masuk ke dalam.
(Oni sedang kesakitan dilempari kacang, lukisan karya Katsushika Hokusai.)
Kuil besar mengadakan acara melempar kacang yang dilakukan atlet dan orang terkenal. Bungkusan kacang keberuntungan dilemparkan ke tengah-tengah khalayak ramai untuk ditangkap atau dipungut.
Makan Sushi
Di daerah Kansai terdapat tradisi makan sushi yang disebut ehōmaki (sejenis futomaki yang belum dipotong-potong). Sushi dimakan tanpa berhenti sambil menghadap ke arah mata angin tempat bersemayam dewa keberuntungan untuk tahun tersebut. Sushi dipegang dengan kedua belah tangan dan orang yang sedang makan dilarang berbicara sampai sushi habis dimakan.
HATSUMODE
Tradisi hatsumōde berasal dari toshigomori atau toshikomori (年蘢り?) yakni tradisi menyendiri di dalam kuil ujigami. Toshigomori dilakukan kepala keluarga yang tidak tidur sepanjang malam untuk berdoa di hadapan ujigami.
Hatsumōde yang dikenal sekarang berasal dari tradisi ganjitsumōde. Bahkan pada zaman sekarang, orang di beberapa daerah di Jepang masih melakukan sanpai(kunjungan) ke kuil ujigami pada malam tahun baru, kembali ke rumah, dan selepas pergantian tahun, kembali berkunjung ke kuil, dan tradisi ini berasal sejak zaman Meiji. Salah satu asal usul hatsumōde kemungkinan adalahehōmōde yakni kunjungan ke kuil yang terletak di mata angin keberuntungan. Walaupun demikian, orang zaman sekarang sering tidak lagi berkunjung ke kuil ujigami atau kuil berdasarkan mata angin keberuntungan, melainkan ke kuil-kuil terkenal.Tradisi ehōmairi (kunjungan ke kuil di mata angin keberuntungan) berlanjut hingga zaman Meiji. Orang hanya melakukan ganjitsumōde (kunjungan tahun baru) ke kuil Buddha atau Shinto.Sewaktu hatsumōde ke kuil Buddha atau Shinto, orang-orang membeli (jimat), hamaya (mainan kincir angin), sapu bambu. Pada sekeping ema, orang menulis harapan dan keinginan yang ingin dicapai, dan omikuji untuk memohon nasib baik, dan meramal keberuntungan pada tahun yang baru. Omamori dan hamaya asal tahun yang telah lampau dikembalikan ke kuil Shinto untuk dimusnahkan dengan cara dibakar. Di dalam kompleks kuil, pengunjung disediakan amazake dan miki.Pada umumnya, kunjungan ke kuil sepanjang shōgatsu san-ganichi (1 Januari-3 Januari) disebut hatsumōde. Namun kunjungan ke kuil sepanjang bulan Januari juga masih bisa dikatakan hatsumōde.
ETIKA DI KUIL MEIJI
pengunjung tidak bisa asal mengunjungi kuilsakral yang satu ini tanpa mengetahui etika umum yang dilakukan oleh masyarakat Jepang.
ETIKA DI GERBANG KUIL
Gerbang atau torii dengan ukuran raksasa yang terbuat dari kayu. Bungkukkan badan sebelum memasuki are kuil, tepatnya membungkuklah di depan gerbang. Cukup membungkuk sekali saja. Sama halnya saat akan keluar kuil. Inilah cara yang dipakai untuk menghormati Kuil Meiji.
ETIKA di TEMIZUYA
Saat berada di temizuya sebuah area yang menyerupai tempat berwudhu, di mana sering dipakai untuk tempat penyucian diri. Jia ingin menyucikan diri di sini, pengunjung tak diperkenankan untuk asal mengambil air
Etika di Bangunan Utama Kuil
Sebelum memasuki bangunan utama kuil, sempatkan untuk meletakkan uang koin pada kotak persembahan ya.Setelah itu, barulah dapat berdoa di Kuil Meiji.Caranya dengan membungkuk dua kali, lalu menepuk-nepuk tangan dua kali. Panjatkan doa seusai dengan harapan. Selesai berdoa, membungkuk sekali lagi.Selesailah prosesi berdoa sesuai dengan etika yang berlaku.
2.Kuil Asakusa Kannon (Sensoji)
Kuil Asakusa Kannon, juga dikenal sebagai kuil Sensoji, adalah salah satu kuil paling terkenal dan tertua di Jepang. Kuil ini merupakan tempat yang paling populer untuk Hatsumōde (kunjungan ke kuil pada awal tahun baru). Biasanya pada tengah malam saat perayaan pergantian tahun baru, peziarah membunyikan lonceng joya-no-kane atau biasa disebut lonceng tahun baru selama 108 kali dan terdapat jimat yang dijual untuk mempromosikan keberuntungan untuk tahun mendatang.
SEJARAH KUIL ASAKUSA KANNON (SENSOJI)
Konon Kuil Asakusa Kannon (Sensoji) ini memiliki kisah yang menarik. Menurut legenda, Kuil ini dibangun pada tahun 645, dengan nama Asakusa Kannon Temple, Pada tahun 628 sepasang nelayan kakak beradik, Hinokuma Hanamari dan Hinokuma Takenari, menemukan patung Dewi Kannon tersangkut jaring mereka di Sungai Sumida. Sesepuh desa kemudian membangun kuil untuk menghormati Bodhisattwa Kannon yang juga dikenal sebagai Guan Yi, Dewi Welas Asih. Kuil yang kemudian diberi nama Kuil Sensoji ini dikenal sebagai kuil tertua di Tokyo. Kuil ini tempat peribadatan 2 agama yaitu Buddha dan Shinto.
TRADISI KUIL ASAKUSA KANNON (SENSOJI)
Kaminarimon – gerbang dewa petir ( the Gate of the God of Thunder ) – dengan lentera berwarna merah yang besar, adalah pintu masuk utama ke kuil Asakusa Kannon ini. pintu masuk besar yang telah dibuat sejak tahun 941 oleh Tairo no Kinmasa, yang berpangkat komandan militer. Pintu gerbang tersebut diberinama Kaminari Gate. Dalam catatan sejarahnya, gerbang kuil agung ini pernah dilalap si jago merah pada abad ke-17. Gerbang ini dipasangi lampion raksasa yang beratnya mencapai 670 kg dan digantung ditengah-tengah pintu gerbang. Lampion raksasa ini hanya akan dilepas ketika berlangsungnya festival. Gerbang Kaminarimon merupakan simbol landmark bagi Asakusa. Namun pintu gerbang utama ke kuil Sensoji masih sekitar 250 meter kedepan. Jalan sepanjang 250 meter itu dikenal sebagai Nakamise Dori. Dimana lebih dari 100 kios menjadi surga belanja para pengunjung kuil. Disana banyak yang berjualan souvenir maupun makanan. Di sepanjang jalan Nakamise, menghubungkan kuil Senso-ji hingga Kaminarimon, sebelah selatan gerbang, ada beberapa toko dan resotran yang berdiri di kedua sisi jalan.
• Di ujung jalan, sebuah pintu yang lebih kecil terbuka sebagai akses ke pagoda yang memiliki tinggi sebanyak lima tingkat dan juga hall utama. Di dekatnya a da sebuah sumber air dan tersedia ada banyak canting besar ( gayung ). Orang-orang mencuci tangan dan mulut mereka sebelum masuk ke kuil dengan maksud untuk menyucikan diri mereka, mereka mencuci segala dosa mereka sebelum masuk ke kuil. Seperti kalau di agama Katolik, tersedia air suci di pintu masuk gereja yang ditujukan agar para umat menyucikan diri mereka sebelum memulai aktifitas keagamaan mereka.
• Di sebelah sumber air berada sebuah tempat bakar kemenyan di mana para orang-orang yang percaya cukup mengibaskan asap tersebut ke tubuh mereka maka penyakit di tubuh mereka akan sembuh atau bisa juga untuk mencegah berbagai penyakit.
Orang-orang naik ke atas tangga untuk berdoa kepada Kannon, Dewi Kemurahan Hati ( Goddess of Mercy ).
Keadaan sedikit remang-remang di dalam kuil yang indah ini.
Di dekat altar ada tempat di mana orang-orang melemparkan batangan kayu untuk mengetahui peruntungan mereka. Setelah mendepositkan sejumlah koin, para umat akan mengocok wadah yang berisi batangan kayu hingga keluar batangan kayu. Kayu tersebut memiliki angka setelah itu orang tersebut akan pergi ke sebuah lemari untuk mencari potongan kertas yang sesuai dengan angka yang tertera di batangan kayu tersebut. Potongan kertas ini berisi ramalan masa depan.
2. Festival Tanabata
Tanabata (七夕) atau yang disebut dengan Festival Bintang adalah salah satu perayaan yang berkaitan dengan musim. Tak hanya di Jepang, festival tanabata juga dirayakan oleh masyarakat Tiongkok, dan Korea. Namun, di Tiongkok sendiri, festival tersebut dikenal dengan sebuatan Qi Xi.
Tradisi perayaan berasal dari Tiongkok yang diperkenalkan di Jepang pada zaman Nara.
Hingga saat ini pun masyarakat Jepang yang sangat mencintai kebudayaannya masih tetap melestarikan dan melakukannya tiap tahun. Hal tersebut tidak sedikit mengundang wisatawan asing yang tertarik kepada budaya unik tersebut.
Tanggal Perayaan
Tanggal festival Tanabata dulunya mengikuti kalender lunisolar yang kira-kira sebulan lebih lambat daripada kalender Gregorian. Sejak kalender Gregorian mulai digunakan di Jepang, perayaan Tanabata diadakan malam tanggal 7 Juli, hari ke-7 bulan ke-7 kalender lunisolar, atau sebulan lebih lambat sekitar tanggal 8 Agustus.
Menurut kalender yang pernah digunakan di Jepang seperti kalender Tempo (lunisolar), Tanabata dirayakan pada hari ke-7 bulan ke-7 sebelum perayaan Obon. Setelah kalender Gregorian mulai digunakan di Jepang, Tanabata dirayakan pada 7 Juli, sedangkan sebagian upacara dilakukan di malam hari tanggal 6 Juli. Di wilayah Jepang sebelah timur seperti Hokkaido dan Sendai, perayaan dilakukan sebulan lebih lambat sekitar 8 Agustus.
Perayaan dilakukan di malam ke-6 bulan ke-7, atau pagi di hari ke-7 bulan ke-7. Sebagian besar upacara dimulai setelah tengah malam (pukul 1 pagi) di hari ke-7 bulan ke-7. Di tengah malam bintang-bintang naik mendekati zenith, dan merupakan saat bintang Altair, bintang Vega, dan galaksi Bima Sakti paling mudah dilihat.
Kemungkinan hari cerah pada hari ke-7 bulan ke-7 kalender Tionghoa lebih besar daripada 7 Juli yang masih merupakan musim panas. Hujan yang turun di malam Tanabata disebut Sairuiu (洒涙雨?).
Sejarah
Tanabata diperkirakan merupakan perpaduan antara tradisi Jepang kuno yang mendoakan arwah leluhur atas keberhasilan panen serta perayaan Qi Qiao Jie asal Tiongkok yang mendoakan kemahiran wanita dalam menenun. Pada awalnya Tanabata merupakan bagian dari perayaan Obon, tapi kemudian dijadikan perayaan terpisah.
Dikatakan juga bahwa festival Tanabata muncul berdasarkan dari kepercayaan masyarakat mengenai sebuah legenda yang terjadi dahulu kala. Legenda Qi Xi di China tertulis dalam kitab Jing-Chu suishi ji (荊楚歲時記, festival dan tradisi tahunan wilayah Jing-Chu) dari zaman Dinasti Utara dan Selatan, dan kitab Catatan Sejarah Agung. Literatur Jing-Chu suishi ji mengisahkan para wanita memasukkan benang berwarna-warni indah ke lubang 7 batang jarum pada malam hari ke-7 bulan ke-7 yang merupakan malam bertemunya Qian Niu dan Zhi Nu, dan persembahan diletakkan berjajar di halaman untuk memohon kepandaian dalam pekerjaan menenun. Legenda asli Jepang sendiri tentang kisah Tanabatatsume dalam kitab Kojiki, yang mengisahkan tentang seorang pelayan wanita (miko) bernama Tanabatatsume yang harus menenun pakaian untuk dewa di tepi sungai, dan menunggu di rumah menenun untuk di jadikan istri semalam sang dewa agar desa terhindar dari bencana. Perayaan Qi Xi yang berkembang di China dihubungkan dengan legenda Tanabatatsume, dan itulah asal mula kata "Tanabata" menjadi nama dari festival yang kini kita kenal.
Di zaman Nara, tanabata dijadikan salah satu perayaan di istana kaisar yang berhubungan dengan musim. Setelah perayaan Tanabata meluas ke kalangan rakyat biasa di zaman Edo, tema perayaan bergeser dari pekerjaan tenun menenun menjadi kepandaian anak perempuan dalam berbagai keterampilan sebagai persiapan sebelum menikah.
Pada awal Nara, festival tanabata awalnya hanya dilakukan oleh kaum bangsawan istana, lalu saat zaman Edo dilakukan juga oleh masyarakat biasa, menurut Drs. Sudjianto, M.Hum. (2002 : 108). Festival Tanabata pertama kali diadakan segera setelah kota Sendai didirikan pada awal masa Edo. Festival Tanabata berangsur-angsur terbentuk dan berkembang menjadi besar bertahun-tahun kemudian. Popularitasnya sempat memudar pada masa restorasi Meiji dan hampir hilang selama depresi ekonomi akibat Perang Dunia I.
Sampai kemudian beberapa voluntir di Sendai berusaha untuk mengadakan kembali festival tersebut. Selama Perang Dunia 2 hampir tidak mungkin mengadakan festival tanabata dan tidak ada dekorasi yg terlihat di kota pada selang tahun 1943-1945. Setelah perang usai, festival tanabata kembali diadakan lagi untuk pertama kalinya di Sendai pada tahun 1946 dengan menampilkan 52 dekorasi. Tahun 1947, kaisar Showa Hirohito mengunjungi Sendai menyaksikan festival tanabata yang disambut dengan 5000 dekorasi tanabata.
Pengadaan kembali festival tanabata setelah Perang Dunia II bermaksud untuk menggairahkan ekonomi, terutama di wilayah Jepang bagian utara. Di zaman dulu, Sendai sering berkali-kali dilanda kekurangan pangan akibat kekeringan dan musim dingin yang terlalu dingin. Di kalangan penduduk lahir tradisi menulis permohonan di atas secarik kertas tanzaku untuk meminta dijauhkan dari bencana alam.
Perayaan tanabata sendiri dimulai Date Masamune menggunakan perayaan Tanabata untuk memajukan pendidikan bagi kaum wanita, dan hiasan daun bambu mulai terlihat di rumah tinggal kalangan samurai dan penduduk kota. Di zaman Meiji dan zaman Taisho, perayaan dilangsungkan secara kecil-kecilan hingga akhirnya penyelenggaraan diambil alih oleh pusat perbelanjaan di tahun 1927. Pusat perbelanjaan memasang hiasan Tanabata secara besar-besaran, dan tradisi ini berlanjut hingga sekarang sebagai Sendai Tanabata.
Tradisi
Pada perayaan Tanabata, orang jepang memiliki tradisi untuk menuliskan harapan-harapan pada secarik kertas kecil berwarna-warni, kemudian menggantungkannya di batang pohon bambu yang diberi nama "Sasa". Tradisi menulis dan menggantungkan kertas harapan di pohon bambu 'Sasa' ini, berakhir ketika 'Obon Matsuri' (Festival Arwah) diselenggarakan yaitu sekita tgl 13-15 Agustus. Perayaan ini mulai dikenal di Jepang sejak zaman Edo (1603-1867). Pada mulanya mereka hanya ikut mendoakan agar pada hari itu cuaca cerah sehingga Orihime dan Hikoboshi bisa bertemu. Tetapi seiring berjalannya waktu, selain mendoakan agar Orihime dan Kengyuu dapat bertemu, saat ini orang jepang terbiasa mengikuti kebiasaan sepasang kekasih tersebut, menuliskan harapan-harapan mereka di atas secarik kertas berwarna warni dan menggantungkannya di batang pohon bambu yang disebut "sasa", agar doa mereka terkabul. Harapan-harapan itu dituliskan dalam secarik kertas berwarna warni untuk mengibaratkan bintang yang berwarna warni yaitu Vega dan Altair yang berada di galaksi bima sakti.
Pohon bambu yang sudah digantungi banyak kertas harapan, akan dialirkan ke sungai sebagai pertanda agar kemalangan atau nasib buruk ikut hanyut terbawa oleh air dan doa segera terkabul. Penggantungan hiasan berupa secarik kertas di batang pohon bambu saat Tanabata diibaratkan oleh jepang sebagai 'Pohon Natal Di Musim Panas (Summer Christmas Tree). Perayaan terbesar setiap tahun dilaksanakan di daerah Sendai. Pada saat festival dimulai jalan-jalan pertokoan si daerah ini akan ramai dengan hiasan - hiasan.
Festival Tanabata dimeriahkan dengan tradisi menulis permohonan di atas tanzaku atau secarik kertas berwarna-warni. Tradisi ini khas Jepang dan sudah ada sejak zaman Edo. Kertas tanzaku terdiri dari 5 warna (hijau, merah,kuning, putih, dan hitam). Di Tiongkok, tali untuk mengikat terdiri dari 5 warna dan bukan kertasnya. Permohonan yang dituliskan pada tanzaku bisa bermacam-macam sesuai dengan keinginan orang yang menulis. Kemudian kertas-kertas tanzaku yang berisi berbagai macam permohonan diikatkan di ranting daun bambu membentuk pohon harapan di hari ke-6 bulan ke-7. Orang yang kebetulan tinggal di dekat laut mempunyai tradisi melarung pohon harapan ke laut sebagai tanda puncak perayaan, tapi kebiasaan ini sekarang makin ditinggalkan orang karena hiasan banyak yang terbuat dari plastik dan akan mengotori air.
Masyarakat Jepang kebanyakan mengikuti perayaan yang di adakan. Tapi tidak sedikit juga yang hanya duduk di dalam rumahnya dan menikmati keramaian pesta dari dalam layar televisi.
Di saat hari peryaan tanabata juga, hiasan yang di pasang di pertokoan menjadi sebuah daya tarik bagi turis. Hal tersebut dapat menjadi sebuah keuntungan dari segi finansial.
Legenda
Legenda Tanabata di Jepang dan Tiongkok mengisahkan bintang Vega yang merupakan bintang tercerah dalam rasi bintang Lyra sebagai Orihime (Shokujo), putri Raja Langit yang pandai menenun. Di suatu tempat di langit, hiduplah bintang Altair yang berada di rasi bintang Aquila dikisahkan sebagai pengembala sapi (Kengyuu) bernama Hikoboshi. Dia adalah seorang pemuda yang sangat rajin.
Suatu hari, sang raja merasa iba melihat anaknya yang selalu menenun setiap hari, maka diizinkanlah Orihime untuk pergi melihat dunia luar. Saat itulah dia bertemu dengan Hikoboshi yang tinggal di tempat yang terpisahkan oleh sebuah sungai yang disebut dengan Amanokawa (milkyway/galaksi bima sakti). Singkat cerita mereka jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah. Karena Hikoboshi adalah pria yang tekun, maka raja langit pun merestui mereka.
Setelah sekian lama orihime dan Hikoboshi menikah, mereka terlalu merasa bahagia, hingga melupakan pekerjaannya masing-masing. Oleh karena itu raja langit pun marah dibuatnya. Maka dia memutuskan untuk memisahkan Orihime dan Hikoboshi dengan menghancurkan jembatan yang digunakan untuk menyebrangi Amanokawa. Tentu saja Orihime merasa sedih dibuatnya. Raja langit merasa tidak tega melihat anaknya terus murung. Sehingga akhirnya dia memperbolehkan mereka untuk bertemu hanya sekali dalam setahun, yaitu pada tanggal tujuh juli. Sekawanan burung kasasagi terbang menghampiri Hikoboshi dan Orihime yang sedang bersedih dan berbaris membentuk jembatan yang melintasi sungai Amanogawa supaya Hikoboshi dan Orihime bisa menyeberang dan bertemu. Apabila pada hari itu ternyata hujan, maka air sungai yang meluap membuat Orihime dan Hikoboshi tidak dapat bertemu. Maka Orihime selalu berdoa kepada dewa bintang dengan menuliskan sajak berupa harapan di atas kertas warna warni yang kemudian digantungkan pada batang pohon bambu.
Hiasan Tanabata
Beberapa hiasan atau aksesoris pada tanabata adalah :
1. Daun bambu (sasa) digunakan sebagai hiasan dalam perayaan karena dipercaya sebagai tempat tinggal arwah leluhur.
2. 短册; Tanzaku : kertas untuk menulis permohonan ( hijau merah kuning putih hitam)
3. 纸衣; Kamigoromo : baju kertas, yang dipercayai dapat membuat kita pandai menjahit
4. 折り鶴; Orizuru : origami berbentuk bangau, simbol untuk umur panjang
5. 巾着; Kinchaku : bisnis yang baik
6. 投网; Toami: jala, agar dimudahkan dalam mencari ikan
7. くずかご; Kuzukago: keranjang sampah, simbol kebersihan
8. 吹き流し; Fukinagashi: pita yang menjulur-julur, biasanya berwarna-warni, menandai kebahagiaan
Lagu Tanabata
Ada sebuah lagu rakyat mengenai festival tanabata yang berjudul tanabatasama. Lagu ini menceritakan tentang hiasan tanabata yang dipasang di depan rumah-rumah Jepang, biasanya pohon bambu yang ramping diletakkkan di pagar rumah atau depan halaman, hiasan-hiasan dan kertas warna-warninya begitu menarik perhatian. berikut arti dari lagunya :
笹の葉 さらさら軒端に ゆれる Yang artinya :
お星さま きらきら Daun-daun bambu bergoyang menimbulkan desiran pada atap rumah
金銀 すなご Bintang agung berkelap-kelip
ごしきの たんざく私が書いた Bertaburan bagai emas dan perak
お星さま きらきら Pada kertas permohonan yang berwarna warni aku menulis
空から見てる Bintang agung yang berkelap-kelip. Menatapku dari langit
Geisha
Geisha seakan menjadi “makhuk” misterius dan menjadi salah satu profesi tradisonal yang sering disalah mengertikan. Dalam bahasa Jepang, geisha berarti “orang seni” atau orang yang terampil dalam seni tradisional Jepang seperti musik, tari, menyanyi, dan upacara minum teh. Pada awalnya, pria yang mengambil peran ini. Seiring jumlah pria yang tertarik menekuni bidang ini menurun, maka para wanita segera mengambil alih.Sebagian wanita yang menjadi geisha merupakan mantan pelacur, tapi sebagian besar tidak.Tradisi geisha yang dilakoni perempuan kemudian semakin tertanam kuat. Mereka memiliki hierarki dan kode etik yang ketat.Sebagian besar geisha tinggal di sebuah rumah yang disebut okiya, yang di miliki oleh seorang wanita yang biasanya mantan geisha. Kebanyakan okiya memiliki geisha utama, para magang, dan pelayan. Tak jarang para gadis dijual kepada okiya. Mereka tidak bisa pergi sebelum melunasi biaya pembelian mereka kepada pemilik okiya. Gadis-gadis ini lantas dilatih di sekolah-sekolah lokal dan memiliki guru yang mengkhususkan diri dalam berbagai bidang seperti shamisen, tari, flute, drum, dan upacara minum teh.
Saat mereka mendekati usia magang, okiya akan bernegosiasi dengan geisha senior untuk menjadi mentor magang atau “kakak”.
Sang kakak akan membantu mempromosikan si magang dan mengajarinya seni menghibur di pesta-pesta, mulai dari cara memulai percakapan cerdas sampai cara menuang sake.
Sang kakak akan mendapatkan sebagian upah sebagai biaya pelatihan yang dulu telah diberikannya. Kebanyakan orang mengira geisha adalah pelacur.
Faktanya, geisha sejati jarang terlibat hubungan seksual dengan pelanggannya. Peran utama geisha adalah sebagai penghibur. Para geisha biasanya dipanggil ke pesta dimana mereka bertugas menghidupkan suasana dengan menari, menyanyi, atau acara lain.
Seorang geisha mungkin memiliki pelindung pribadi atau danna. Hubungan ini biasanya bersifat seksual, meskipun terjadi di luar lingkungan kerja normal. Danna pada umumnya seorang pria kaya yang mampu membayar biaya sekolah, pelajaran, resital pribadi, dan bahkan pakaian seorang geisha. Dengan memiliki danna, seorang geisha mampu memutuskan hubungan dengan okiya dan hidup secara mandiri jika dia menginginkannya.
Geisha mempelajari berbagai seni tradisional Jepang dengan serius, bahkan hingga sekarang. Jumlah mereka terus menurun, namun masih ada wanita Jepang yang tetap melakoninya. Wilayah Jepang yang paling terkenal dengan geishanya adalah Kyoto.
Wisatawan masih bisa melihat gadis-gadis muda ini memakai kimono penuh ornamen danmenjalankan peran tradisional berusia berabad-abad sebagai penghibur
Tak kurang Arthur Golden menerbitkan buku yang berjudul Memoirs of a Geisha yang kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama.
Ketrampilan apa yang harus dimiliki oleh seorang Geisha?
1. Kemampuan menari tradisional.
2. Kemampuan menyanyi.
3. Kemampuan berkomunikasi.
4. Kemampuan melawak
Kerahasian yang tidak boleh dilakukan oleh seorang Geisha pada saat dia menghibur dan mereka harus pandai merahasiakan hal tersebut :
1. Tidak boleh terlihat sedih, apalagi menangis.
2. Tidak boleh menerima dan memberi cinta.
3. Tidak boleh memilih cinta.
4. Tidak boleh terlihat emosional apalagi melakukan kekerasan.
Kimono
Kimono adalah pakaian tradisional Jepang. Arti harfiah kimono adalah baju atau sesuatu yang dikenakan (ki berarti pakai, dan mono berarti barang).
Pada Zaman Heian Menurut aristokrat bernama Sugawara Michizane, penghapusan Kentoshi (utusan Jepang untuk Dinasti Tang) memicu pertumbuhan budaya lokal yang ditandai dengan ketetapan resmi tata cara berbusana dan standarisasi protokol untuk upacara-upacara formal. Sayangnya hal ini berakibat pada semakin rumitnya gaya pakaian zaman Heian. Wanita pada zaman Heian mengenakan pakaian berlapis-lapis yang disebut Junihitoe.
Zaman Kamakura dan Zaman Muromachi Kekuasaan pemerintahan beralih ke tangan para samurai di zaman Sengoku. Prajurit samurai mengenakan pakaian bernama Suikan, yang perlahan-lahan berubah menjadi pakaian yang disebut Hitatare yang kemudian pada zaman Muromachi dijadikan pakaian resmi kaum samurai.
Zaman Meiji dan Zaman Taisho Pada zaman Meiji, orang-orang dari golongan bangsawan istana berlomba mengganti kimono dengan pakaian ala Barat supaya tidak dianggap kuno.
Seragam militer dikenakan oleh laki-laki yang mengikuti dinas militer, sedangkan model seragam sekolah anak laki-laki ditiru dari model seragam tentara angkatan darat. Seragam anak sekolah juga menggunakan model kerah berdiri yang mengelilingi leher dan tidak jatuh ke pundak (stand-up collar) persis model kerah seragam tentara. Wanita Jepang pada zaman Meiji semuanya masih mengenakan kimono, kecuali wanita bangsawan dan guru wanita yang bertugas mengajar anak-anak perempuan. Pada zaman Taisho periode lanjut, seiring dengan kebijakan pemerintah yang memiliterisasi seluruh negeri, seragam anak sekolah perempuan yang selama ini berupa Andon Hakama (kimono dengan celana Hakama) diganti dengan pakaian ala barat yang disebut Serafuku, yakni setelan rok dan baju blus yang mirip yang sering dipakai oleh pelaut. Zaman Showa Di zaman perang, pemerintah membagi-bagikan pakaian seragam untuk penduduk laki-laki. Pakaian seragam untuk laki-laki disebut Kokumin fuku, sedangkan pemerintah memaksa para wanita untuk memakai Monpei (celana panjang untuk kerja yang berkaret di bagian pergelangan kaki).
Perang Dunia II berakhir dengan kekalahan Jepang. Wanita Jepang merasa lega karena perang sudah berakhir dan kembali terpikat pada keindahan kimono. Tapi zaman cepat berganti, kimono tidak mungkin menandingi kepopuleran pakaian ala Barat yang praktis untuk dipakai sehari-hari, sehingga jumlah orang Jepang yang memakai kimono menjadi berkurang sedikit demi sedikit.
Shiromuku, kimono untuk pengantin wanita.
Kimono sekarang ini lebih sering dikenakan wanita pada kesempatan istimewa. Wanita yang belum menikah mengenakan sejenis kimono yang disebut furisode. Ciri khas furisode adalah lengan yang lebarnya hampir menyentuh lantai. Perempuan yang genap berusia 20 tahun mengenakan furisode untuk menghadiri seijin shiki. Pria mengenakan kimono pada pesta pernikahan, upacara minum teh, dan acara formal lainnya. Ketika tampil di luar arena sumo, pesumo profesional diharuskan mengenakan kimono.[2] Anak-anak mengenakan kimono ketika menghadiri perayaan Shichi-Go-San. Selain itu, kimono dikenakan pekerja bidang industri jasa dan pariwisata, pelayan wanita rumah makan tradisional (ryōtei) dan pegawai penginapan tradisional (ryokan).
Pakaian pengantin wanita tradisional Jepang (hanayome ishō) terdiri dari furisode dan uchikake (mantel yang dikenakan di atas furisode).Furisode untuk pengantin wanita berbeda dari furisode untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan untuk furisode pengantin diberi motif yang dipercaya mengundang keberuntungan, seperti gambar burung jenjang. Warna furisode pengantin juga lebih cerah dibandingkan furisode biasa. Shiromuku adalah sebutan untuk baju pengantin wanita tradisional berupa furisode berwarna putih bersih dengan motif tenunan yang juga berwarna putih.
Kimono Wanita
• Kurotomesode
Tomesode adalah kimono paling formal untuk wanita yang sudah menikah. Bila berwarna hitam, kimono jenis ini disebut kurotomesode (arti harfiah: tomesode hitam. Kurotomesode dipakai untuk menghadiri resepsi pernikahan dan acara-acara yang sangat resmi.
• Irotomesode
Tomesode yang dibuat dari kain berwarna disebut irotomesode (arti harfiah: tomesode berwarna). Kimono jenis ini dipakai oleh wanita dewasa yang sudah/belum menikah. Kimono jenis irotomesode dipakai untuk menghadiri acara yang tidak memperbolehkan tamu untuk datang memakai kurotomesode, misalnya resepsi di istana kaisar.
• Furisode
Furisode adalah kimono paling formal untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan berwarna-warni cerah dengan motif mencolok di seluruh bagian kain. Ciri khas furisode adalah bagian lengan yang sangat lebar dan menjuntai ke bawah. Furisode dikenakan sewaktu menghadiri upacara seijin shiki, menghadiri resepsi pernikahan teman, upacara wisuda, atau hatsumode.
• Homongi
Hōmon-gi adalah kimono formal untuk wanita, sudah menikah atau belum menikah. Homongi dipakai sewaktu menjadi tamu resepsi pernikahan, upacara minum teh, atau merayakan tahun baru.[3]
• Iromuji
Iromuji adalah kimono semiformal, namun bisa dijadikan kimono formal bila iromuji tersebut memiliki lambang keluarga (kamon). Bila menghadiri upacara minum teh, cukup dipakai iromuji dengan satu lambang keluarga.
• Tsukesage
Tsukesage adalah kimono semiformal untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Tsukesage dikenakan untuk menghadiri upacara minum teh yang tidak begitu resmi, pesta pernikahan, pesta resmi, atau merayakan tahun baru.
• Komon
Komon adalah kimono santai untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Komon dikenakan untuk menghadiri pesta reuni, makan malam, bertemu dengan teman-teman, atau menonton pertunjukan di gedung.
• Tsumugi
Tsumugi adalah kimono santai untuk dikenakan sehari-hari di rumah oleh wanita yang sudah atau belum menikah. Kimono jenis ini boleh dikenakan untuk keluar rumah seperti ketika berbelanja dan berjalan-jalan dan dulunya dikenakan untuk bekerja di ladang.
• Yukata
Yukata adalah kimono santai yang dibuat dari kain katun tipis tanpa pelapis untuk kesempatan santai di musim panas. Biasa di pakai pada saat festival musim panas.
Kimono Pria
Kimono pria dibuat dari bahan berwarna gelap seperti hijau tua, coklat tua, biru tua, dan hitam.
• Kimono paling formal berupa hakama dan haori
hakama dan haori merupakan busana pengantin pria tradisional. Setelan ini hanya dikenakan sewaktu menghadiri upacara sangat resmi, misalnya resepsi pemberian penghargaan dari kaisar/pemerintah atau seijin shiki.
• Kimono santai kinagashi
Pria mengenakan kinagashi sebagai pakaian sehari-hari atau ketika keluar rumah pada kesempatan tidak resmi. Aktor kabuki mengenakannya ketika berlatih.
Upacara Minum Teh
Upacara mninum teh adalah ritual traditional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu dan pada zaman dulu disebut cha to atau cha no yu. Upacara minum teh diluar di sebut nodate. Teh di siapkan secara khusus oleh orang yang mendalami seni upacara minum teh dan di nikmati sekelompok tamu di ruangan khusus untuk minum teh yang disebut cha shitsu. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu seperti memilih lukisan dinding (kakejiku), bunga (chabana), dan mangkuk keramik yang sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang.The bukan hanya dituang dengan air panas dan diminum tapi sebagai seni dalam arti luas. Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain adalah tujuanhidup.
Seni upacara minum teh memerlukan pendalaman selama bertahun-tahun dengan penyempurnaan yang berlangsung seumur hidup. Tamu yang diundang secara formal untuk upacara minum teh juga harus mempelajari tata krama, kebiasaan, basa-basi, etiket minum teh dan menikmati makanan kecil yang dihidangkan. Pada umumnya, upacara minum teh menggunakan teh bubuk matcha yang di buat dari teh hijau yang di giling halus. Upacara minum teh menggunakan matcha disebut matchado, sedangkan bila menggunakan teh hijau jenis sencha disebut senchado. Dalam percakapan sehari-hari di Jepang upacara minum teh cukup disebut sebagai ocha. Istilah ocha no keiko biasa berarti belajar mempraktekkan tata karma penyajian teh atau belajar etiket sebagai tamu dalam upacara minum teh.
SEJARAH MINUM TEH
Lu Yu (Riku U) adalah seorang ahli teh dari dinasti tang di tiongkok yang menulis buku berjudul classis of tea. Buku ini mengenai sejarah teh, cara menanam teh, sejarah minum teh dan cara membuat dan menikmati teh. Produksi teh dan tradisi minum teh dimulai sejak zaman Heian setelah teh dibawa masuk ke Jepang oleh duta kaisar yang dikirim oleh dinasti Tang.Literature klasik Nihon Koki menulis tentang kaisar Saga yang sangat terkesan dengan teh yang disuguhkan pendeta bernama Eichuse waktu mengunjungi provinsi Omi pada tahun 815. Catatan dalam Nihon Koki merupakan sejarah tertulisan pertama tentang tradisi minum teh di Jepang. Pada masa itu, teh juga masih berupa teh hasil fermentasi setengah matang mirip teh Oolong yang dikenal sekarang ini.
Teh dibuat dengan cara merebus teh ke dalam air panas dan hanya di nikmati di beberapa kuil agama Buddha. Teh belum di nikmati di kalangan terbatas sehingga kebiasaan minum teh tidak sempat terkenal. Di zaman Kamakura, pendeta Eisai dan Dogen menyebarkan ajaran Zen di jepang sambil memperkenalkan matcha yang dibawanya dari tiongkok sebagai obat. Teh dan ajaran Zen menjadi terkenal sebagai unsur utama dalam penerangan spiritual.Penanaman teh lalu mulai dilakukan di mana-mana sejalan dengan semakin meluasnya kebiasaan minum teh.Permainan tebak-tebakan daerah tempat asal air yang diminum berkembang di zaman Mumomachi. Permainantebak-tebakan air minum disebut Tosui dan menjadi terkenalsebagai judi yang disebut tocha.
Pada Tocha permainan tebak-tebakan nama merek the yang diminum. Pada masa itu, perangkat minum teh dari dinasti Tang dinilai dengan harga tinggi. Kolektor perlu mengeluarkan banyak uang hanya untuk bisa mengumpulkan perangkat minum teh dari tiongkok. Acara minum teh menjadi popular dikalangan daimyo yang mengadakan upacara minum teh secara mewah menggunakan perangkat minum teh dari tiongkok. Acara minum teh seperti ini dikenal sebagai Murato Juko. Menurut Juko, minuman keras dan perjudian harus dilarang dari acara minum teh. Acara minum teh juga harus merupakan sarana pertukaran pengalaman spiritual anatar pihak tuan rumah dan pihak yang dijamu. Acara minum teh yang diperkenalkan Juko merupakan asal usul upacara minum teh aliran Wabicha.
Sampai di awal zaman Edo, ahli upacara minum teh sebagian besar terdiri dari kalangan terbatas seperti daimyo dan pedagang yang sangat kaya. Memasuki pertengahan zaman Edo, penduduk kota yang sudah sukses secara ekonomi dan membentuk kalangan menengah atas secara beramai-ramai menjadi peminat upcara minum teh. Kalangan penduduk kota yang berminat mempelajari upacara minum teh disambut dengan tangan terbuka oleh aliran Sansenke dan pecahan aliran senke.
Kepopuleran upacara minum teh menyebabkan jumlah murid menjadi semakin banyak sehingga perlu diatur dengan suatu sistem. Lemo to seido adalah peraturan yang lahir dari kebutuhan mengatur hirarki.
Setelah kematian Kaisar Meiji pada tahun 1912, Parlemen Jepangmelayangkan resolusi untuk mengenang peran Sang Kaisar dalam Restorasi Meiji. Sebuah taman bunga iris di area Tokyo di mana Sang Kaisar dan permaisurinya diketahui pernah datang berkunjung dipilih sebagai lokasi bangunan kuil. Konstruksi dimulai pada 1915, kuil ini dibangun dalam corak tradisional Nagarezukuri serta tersusun sebagian besar dari cemara jepang dan tembaga. Formalnya kuil ini diresmikan pada 1920, diselesaikan pada 1920, dan secara resmi tamannya selesai dibuat pada 1926.Bangunan asli kuil hancur pada saat Serangan Udara Tokyo pada Perang Dunia II. Lalu kuil ini direkonstruksi kembali atas upaya dan dana dari publik yang selesai pada Oktober 1958.Kuil Meiji tak hanya menjadi simbol dari kecintaan masyarakat Jepang kepada Kaisar Meiji dan permaisurinya, tetapi juga sebagai bukti bersatunya kembali antara alam dan manusia.Dalam agama Shinto, keseimbangan antara alam dan dunia memang menjadi ajaran utama.Hal ini dikarenakan karena daerah hijau ini diingatkan kembali mengenai lokasi serta lingkungan kuil tersebut berada di tengah-tengah hiruk pikuk polusi dan karbon di kota Tokyo.
Restorasi Meiji
Restorasi Meiji (明治維新 Meiji-ishin), dikenal juga dengan sebutan Meiji Ishin,Revolusi Meiji, atau Pembaruan Meiji, adalah serangkaian kejadian yang berpuncak pada pengembalian kekuasaan di Jepang kepada Kaisar pada tahun 1868. Restorasi ini menyebabkan perubahan besar-besaran pada struktur politik dan sosial Jepang, dan berlanjut hingga zaman Edo (sering juga disebut Akhir Keshogunan Tokugawa) dan awal zaman Meiji.Restorasi Meiji terjadi pada tahun 1866 sampai 1869, tiga tahun yang mencakup akhir zaman Edo dan awal zaman Meiji. Restorasi ini diakibatkan oleh Perjanjian Shimoda dan Perjanjian Towsen Harris yang dilakukan oleh Komodor Matthew Perry dari Amerika Serikat.Penyebab Restorasi Meiji begitu banyak. Jepang baru menyadari betapa terkebelakangnya mereka dibandingkan negara-negara lainnya di dunia setelah datangnya Komodor Amerika Serikat Matthew C. Perry yang memaksa Jepang membuka pelabuhan-pelabuhan untuk kapal-kapal asing yang ingin berdagang. Komodor Perry datang ke Jepang menaiki kapal super besar yang dilengkapi persenjataan dan teknologi yang jauh lebih superior dibandingkan milik Jepang saat itu. Para pemimpin Restorasi Meiji bertindak atas nama pemulihan kekuasaan kaisar untuk memperkuat Jepang terhadap ancaman kekuatan-kekuatan kolonial waktu itu. Kata Meiji berarti kekuasaan pencerahan dan pemerintah waktu itu bertujuan menggabungkan "kemajuan Barat" dengan nilai-nilai "Timur" tradisional.
Kaisar Meiji yang masih muda bertemu dengan perwakilan negara-negara asing pada akhir Perang Boshin, 1868-1870
Restorasi Meiji mengakselerasi industrialisasi di Jepang yang dijadikan modal untuk kebangkitan Jepang sebagai kekuatan militer pada tahun 1905 di bawah slogan "Negara Makmur, Militer Kuat" (富国強兵 fukoku kyōhei). Pemerintah Oligarki Meiji yang bertindak atas nama kekuasaan kaisar memperkenalkan upaya-upaya mengonsolidasi kekuasaan untuk menghadapi sisa-sisa pemerintahan zaman Edo, keshogunan,daimyo, dan kelas samurai.
![]() |
| Gambar 2 (Kaisar Meiji yang masih muda bertemu dengan perwakilan negara-negara asing pada akhir Perang Boshin, 1868-1870) |
Pada tahun 1868, semua tanah feodal milik Keshogunan Tokugawa disita dan dialihkan di bawah "kendali kekaisaran"di bawah kekuasaan pemerintahan baru Meiji.
Pada tahun 1869, daimyo Domain Tosa, Domain Hizen, Domain Satsuma, dan Domain Chōshū yang telah berjasa melawan kekuasaan keshogunan, dibujuk untuk mau "mengembalikan domain mereka kepada kaisar." Dengan adanya penghapusan wilayah domain, maka untuk pertama kalinya tercipta pemerintahan Jepang yang terpusat dan berkuasa di semua wilayah negeri.
Pada tahun 1871, semua daimyo dan mantan daimyo dipanggil untuk menghadap kaisar untuk menerima perintahpengembalian semua domain kepada kaisar. Sekitar 300 domain (han) diubah bentuknya menjadi prefektur yang dipimpin oleh gubernur yang ditunjuk oleh negara.
Pada tahun 1888, beberapa prefektur telah berhasil dilebur menjadi satu sehingga jumlah prefektur menciut menjadi 75 prefektur.
Kompleks Kuil
Kuil Meiji terletak di dalam hutan yang melingkupi area seluas 700.000 meter persegi (kira-kira 175 are). Area ini ditutupi oleh hutan evergreen yang terdiri dari 120.000 pohon dengan 365 spesies yang berbeda di mana pohon-pohon ini disumbang oleh masyarakat Jepang dari berbagai kalangan pada saat kuil ini mulai didirikan. Hutan ini sebagian besar dikunjungi sebagai tempat rekreasi dan relaksasi di pusat kota Tokyo. Kuil ini sendiri terdiri dari dua area utama.
Naien
Naien merupakan wilayah bagian dalam kuil di mana bangunan kuil terpusat dan termasuk museum harta karun yang menyimpan tulisan-tulisan Kaisar dan sang permaisuri. Museum harta karun ini dibangun dalam corak Azukezukuri.
![]() |
| Gambar 3 Kompleks Kuil Meiji Jingu |
Gaien merupakan wilayah bagian luar kuil yang termasuk Galeri Gambar Peringatan Meiji yang memuat koleksi 80 mural besar yang mengilustrasikan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Sang Kaisar dan pasangannya. Juga termasuk fasilitas olah raga yang bermacam-macam yang di antaranya adalah stadion nasional Jepang. Selain itu juga termasuk Aula Peringatan Meiji yang pada mulanya digunakan sebagai tempat pertemuan pemerintah, di mana diskusi mengenai konsep Konstruksi Meiji pun dilaksanakan di sana pada akhir abad ke-19. Sekarang tempat ini dipakai sebagai tempat pernikahan dalam tradisi agama Shinto.
![]() |
| Gambar 4 Kompleks Kuil Meiji Jingu |
Tradisi Setsubun
Setsubun (節分?, pembagian musim) adalah nama perayaan sekaligus istilah yang digunakan di Jepang untuk hari sebelum hari pertama setiap musim. Dalam satu tahun terdapat 4 kali hari pertama setiap musim: risshun, rikka, rishū, dan rittō. Istilah "setsubun" sekarang hanya digunakan untuk menyebut hari sebelum risshun (hari pertama musim semi) sekitar tanggal 3 Februari, banyak sekali tradisi tersebut dilakukan untuk mengusir oniyang dipercaya lahir pada hari setsubun ini, berikut :
Melempar Kacang-Kacangan
Kacang yang sudah disangrai matang dilempar-lemparkan ke arah pemeran "oni". Tradisi melempar kacang merupakan perlambang keinginan bebas dari penyakit dan selalu sehat sepanjang tahun. Oni korban lemparan kacang dipercaya akan lari karena kesakitan. Orang juga memakan kacang kedelai dalam jumlah yang sama dengan usia orang tersebut.
Tradisi Setsubun adalah perpaduan upacara mengusir arwah jahat di istana yang berasal dari tradisi Tiongkok dan upacaraMamemaki (melempar kacang) yang memiliki tujuan mirip-mirip di kuil agama Buddha dan Shinto. Kacang yang dilempar-lemparkan biasanya adalah kedelai, tapi sering diganti dengan kacang tanah.Kacang dilempar-lemparkan sambil mengucapkan mantera "Oni wa soto, fuku wa uchi" (Oni ke luar, keberuntungan ke dalam). Di beberapa daerah yang memiliki kuil yang dipercaya ditinggali oni, mantera dibalik menjadi "Oni wa uchi, fuku wa soto (Oni ke dalam, keberuntungan ke luar)," atau kedua-duanya diminta masuk ke dalam.
(Oni sedang kesakitan dilempari kacang, lukisan karya Katsushika Hokusai.)
Kuil besar mengadakan acara melempar kacang yang dilakukan atlet dan orang terkenal. Bungkusan kacang keberuntungan dilemparkan ke tengah-tengah khalayak ramai untuk ditangkap atau dipungut.
![]() |
| Gambar 5 Oni yang kesakitan karena dilempar kacang |
Makan Sushi
![]() |
| Gambar 6 Tradisi makan sushi |
Tradisi hatsumōde berasal dari toshigomori atau toshikomori (年蘢り?) yakni tradisi menyendiri di dalam kuil ujigami. Toshigomori dilakukan kepala keluarga yang tidak tidur sepanjang malam untuk berdoa di hadapan ujigami.
![]() |
| Gambar 7 Tradisi mengunjungi kuil |
ETIKA DI KUIL MEIJI
pengunjung tidak bisa asal mengunjungi kuilsakral yang satu ini tanpa mengetahui etika umum yang dilakukan oleh masyarakat Jepang.
ETIKA DI GERBANG KUIL
Gerbang atau torii dengan ukuran raksasa yang terbuat dari kayu. Bungkukkan badan sebelum memasuki are kuil, tepatnya membungkuklah di depan gerbang. Cukup membungkuk sekali saja. Sama halnya saat akan keluar kuil. Inilah cara yang dipakai untuk menghormati Kuil Meiji.
![]() |
| Gambar 8 Pengunjung dituntut untuk membungkukkan diri di depan gerbang Kuil Meiji |
ETIKA di TEMIZUYA
Saat berada di temizuya sebuah area yang menyerupai tempat berwudhu, di mana sering dipakai untuk tempat penyucian diri. Jia ingin menyucikan diri di sini, pengunjung tak diperkenankan untuk asal mengambil air
![]() |
| Gambar 9 Tempat untuk mengambil air untuk penyucian diri |
Etika di Bangunan Utama Kuil
Sebelum memasuki bangunan utama kuil, sempatkan untuk meletakkan uang koin pada kotak persembahan ya.Setelah itu, barulah dapat berdoa di Kuil Meiji.Caranya dengan membungkuk dua kali, lalu menepuk-nepuk tangan dua kali. Panjatkan doa seusai dengan harapan. Selesai berdoa, membungkuk sekali lagi.Selesailah prosesi berdoa sesuai dengan etika yang berlaku.
2.Kuil Asakusa Kannon (Sensoji)
![]() |
| Gambar 10 Kuil Asakusa Kannon |
SEJARAH KUIL ASAKUSA KANNON (SENSOJI)
Konon Kuil Asakusa Kannon (Sensoji) ini memiliki kisah yang menarik. Menurut legenda, Kuil ini dibangun pada tahun 645, dengan nama Asakusa Kannon Temple, Pada tahun 628 sepasang nelayan kakak beradik, Hinokuma Hanamari dan Hinokuma Takenari, menemukan patung Dewi Kannon tersangkut jaring mereka di Sungai Sumida. Sesepuh desa kemudian membangun kuil untuk menghormati Bodhisattwa Kannon yang juga dikenal sebagai Guan Yi, Dewi Welas Asih. Kuil yang kemudian diberi nama Kuil Sensoji ini dikenal sebagai kuil tertua di Tokyo. Kuil ini tempat peribadatan 2 agama yaitu Buddha dan Shinto.
TRADISI KUIL ASAKUSA KANNON (SENSOJI)
![]() |
| Gambar 11 Kaminarimon Gate |
![]() |
| Gambar 12 Nakimase Dori |
![]() |
| Gambar 13 Pengunjung menyucikan diri dengan air |
• Di sebelah sumber air berada sebuah tempat bakar kemenyan di mana para orang-orang yang percaya cukup mengibaskan asap tersebut ke tubuh mereka maka penyakit di tubuh mereka akan sembuh atau bisa juga untuk mencegah berbagai penyakit.
![]() |
| Gambar 13 Tempat membakar kemenyan |
Keadaan sedikit remang-remang di dalam kuil yang indah ini.
Di dekat altar ada tempat di mana orang-orang melemparkan batangan kayu untuk mengetahui peruntungan mereka. Setelah mendepositkan sejumlah koin, para umat akan mengocok wadah yang berisi batangan kayu hingga keluar batangan kayu. Kayu tersebut memiliki angka setelah itu orang tersebut akan pergi ke sebuah lemari untuk mencari potongan kertas yang sesuai dengan angka yang tertera di batangan kayu tersebut. Potongan kertas ini berisi ramalan masa depan.
![]() |
| Gambar 14 Tempat melempar batangan kayu |
Tanabata (七夕) atau yang disebut dengan Festival Bintang adalah salah satu perayaan yang berkaitan dengan musim. Tak hanya di Jepang, festival tanabata juga dirayakan oleh masyarakat Tiongkok, dan Korea. Namun, di Tiongkok sendiri, festival tersebut dikenal dengan sebuatan Qi Xi.
Tradisi perayaan berasal dari Tiongkok yang diperkenalkan di Jepang pada zaman Nara.
Hingga saat ini pun masyarakat Jepang yang sangat mencintai kebudayaannya masih tetap melestarikan dan melakukannya tiap tahun. Hal tersebut tidak sedikit mengundang wisatawan asing yang tertarik kepada budaya unik tersebut.
Tanggal Perayaan
Tanggal festival Tanabata dulunya mengikuti kalender lunisolar yang kira-kira sebulan lebih lambat daripada kalender Gregorian. Sejak kalender Gregorian mulai digunakan di Jepang, perayaan Tanabata diadakan malam tanggal 7 Juli, hari ke-7 bulan ke-7 kalender lunisolar, atau sebulan lebih lambat sekitar tanggal 8 Agustus.
Menurut kalender yang pernah digunakan di Jepang seperti kalender Tempo (lunisolar), Tanabata dirayakan pada hari ke-7 bulan ke-7 sebelum perayaan Obon. Setelah kalender Gregorian mulai digunakan di Jepang, Tanabata dirayakan pada 7 Juli, sedangkan sebagian upacara dilakukan di malam hari tanggal 6 Juli. Di wilayah Jepang sebelah timur seperti Hokkaido dan Sendai, perayaan dilakukan sebulan lebih lambat sekitar 8 Agustus.
Perayaan dilakukan di malam ke-6 bulan ke-7, atau pagi di hari ke-7 bulan ke-7. Sebagian besar upacara dimulai setelah tengah malam (pukul 1 pagi) di hari ke-7 bulan ke-7. Di tengah malam bintang-bintang naik mendekati zenith, dan merupakan saat bintang Altair, bintang Vega, dan galaksi Bima Sakti paling mudah dilihat.
Kemungkinan hari cerah pada hari ke-7 bulan ke-7 kalender Tionghoa lebih besar daripada 7 Juli yang masih merupakan musim panas. Hujan yang turun di malam Tanabata disebut Sairuiu (洒涙雨?).
![]() |
| Gambar 15 Pohon yang dihias pada Festival Tanabata |
Sejarah
Tanabata diperkirakan merupakan perpaduan antara tradisi Jepang kuno yang mendoakan arwah leluhur atas keberhasilan panen serta perayaan Qi Qiao Jie asal Tiongkok yang mendoakan kemahiran wanita dalam menenun. Pada awalnya Tanabata merupakan bagian dari perayaan Obon, tapi kemudian dijadikan perayaan terpisah.
Dikatakan juga bahwa festival Tanabata muncul berdasarkan dari kepercayaan masyarakat mengenai sebuah legenda yang terjadi dahulu kala. Legenda Qi Xi di China tertulis dalam kitab Jing-Chu suishi ji (荊楚歲時記, festival dan tradisi tahunan wilayah Jing-Chu) dari zaman Dinasti Utara dan Selatan, dan kitab Catatan Sejarah Agung. Literatur Jing-Chu suishi ji mengisahkan para wanita memasukkan benang berwarna-warni indah ke lubang 7 batang jarum pada malam hari ke-7 bulan ke-7 yang merupakan malam bertemunya Qian Niu dan Zhi Nu, dan persembahan diletakkan berjajar di halaman untuk memohon kepandaian dalam pekerjaan menenun. Legenda asli Jepang sendiri tentang kisah Tanabatatsume dalam kitab Kojiki, yang mengisahkan tentang seorang pelayan wanita (miko) bernama Tanabatatsume yang harus menenun pakaian untuk dewa di tepi sungai, dan menunggu di rumah menenun untuk di jadikan istri semalam sang dewa agar desa terhindar dari bencana. Perayaan Qi Xi yang berkembang di China dihubungkan dengan legenda Tanabatatsume, dan itulah asal mula kata "Tanabata" menjadi nama dari festival yang kini kita kenal.
![]() |
| Gambar 16 Ilustrasi seorang gadis dengan pohon Tanabata |
Pada awal Nara, festival tanabata awalnya hanya dilakukan oleh kaum bangsawan istana, lalu saat zaman Edo dilakukan juga oleh masyarakat biasa, menurut Drs. Sudjianto, M.Hum. (2002 : 108). Festival Tanabata pertama kali diadakan segera setelah kota Sendai didirikan pada awal masa Edo. Festival Tanabata berangsur-angsur terbentuk dan berkembang menjadi besar bertahun-tahun kemudian. Popularitasnya sempat memudar pada masa restorasi Meiji dan hampir hilang selama depresi ekonomi akibat Perang Dunia I.
Sampai kemudian beberapa voluntir di Sendai berusaha untuk mengadakan kembali festival tersebut. Selama Perang Dunia 2 hampir tidak mungkin mengadakan festival tanabata dan tidak ada dekorasi yg terlihat di kota pada selang tahun 1943-1945. Setelah perang usai, festival tanabata kembali diadakan lagi untuk pertama kalinya di Sendai pada tahun 1946 dengan menampilkan 52 dekorasi. Tahun 1947, kaisar Showa Hirohito mengunjungi Sendai menyaksikan festival tanabata yang disambut dengan 5000 dekorasi tanabata.
Pengadaan kembali festival tanabata setelah Perang Dunia II bermaksud untuk menggairahkan ekonomi, terutama di wilayah Jepang bagian utara. Di zaman dulu, Sendai sering berkali-kali dilanda kekurangan pangan akibat kekeringan dan musim dingin yang terlalu dingin. Di kalangan penduduk lahir tradisi menulis permohonan di atas secarik kertas tanzaku untuk meminta dijauhkan dari bencana alam.
Perayaan tanabata sendiri dimulai Date Masamune menggunakan perayaan Tanabata untuk memajukan pendidikan bagi kaum wanita, dan hiasan daun bambu mulai terlihat di rumah tinggal kalangan samurai dan penduduk kota. Di zaman Meiji dan zaman Taisho, perayaan dilangsungkan secara kecil-kecilan hingga akhirnya penyelenggaraan diambil alih oleh pusat perbelanjaan di tahun 1927. Pusat perbelanjaan memasang hiasan Tanabata secara besar-besaran, dan tradisi ini berlanjut hingga sekarang sebagai Sendai Tanabata.
Tradisi
Pada perayaan Tanabata, orang jepang memiliki tradisi untuk menuliskan harapan-harapan pada secarik kertas kecil berwarna-warni, kemudian menggantungkannya di batang pohon bambu yang diberi nama "Sasa". Tradisi menulis dan menggantungkan kertas harapan di pohon bambu 'Sasa' ini, berakhir ketika 'Obon Matsuri' (Festival Arwah) diselenggarakan yaitu sekita tgl 13-15 Agustus. Perayaan ini mulai dikenal di Jepang sejak zaman Edo (1603-1867). Pada mulanya mereka hanya ikut mendoakan agar pada hari itu cuaca cerah sehingga Orihime dan Hikoboshi bisa bertemu. Tetapi seiring berjalannya waktu, selain mendoakan agar Orihime dan Kengyuu dapat bertemu, saat ini orang jepang terbiasa mengikuti kebiasaan sepasang kekasih tersebut, menuliskan harapan-harapan mereka di atas secarik kertas berwarna warni dan menggantungkannya di batang pohon bambu yang disebut "sasa", agar doa mereka terkabul. Harapan-harapan itu dituliskan dalam secarik kertas berwarna warni untuk mengibaratkan bintang yang berwarna warni yaitu Vega dan Altair yang berada di galaksi bima sakti.
Pohon bambu yang sudah digantungi banyak kertas harapan, akan dialirkan ke sungai sebagai pertanda agar kemalangan atau nasib buruk ikut hanyut terbawa oleh air dan doa segera terkabul. Penggantungan hiasan berupa secarik kertas di batang pohon bambu saat Tanabata diibaratkan oleh jepang sebagai 'Pohon Natal Di Musim Panas (Summer Christmas Tree). Perayaan terbesar setiap tahun dilaksanakan di daerah Sendai. Pada saat festival dimulai jalan-jalan pertokoan si daerah ini akan ramai dengan hiasan - hiasan.
Festival Tanabata dimeriahkan dengan tradisi menulis permohonan di atas tanzaku atau secarik kertas berwarna-warni. Tradisi ini khas Jepang dan sudah ada sejak zaman Edo. Kertas tanzaku terdiri dari 5 warna (hijau, merah,kuning, putih, dan hitam). Di Tiongkok, tali untuk mengikat terdiri dari 5 warna dan bukan kertasnya. Permohonan yang dituliskan pada tanzaku bisa bermacam-macam sesuai dengan keinginan orang yang menulis. Kemudian kertas-kertas tanzaku yang berisi berbagai macam permohonan diikatkan di ranting daun bambu membentuk pohon harapan di hari ke-6 bulan ke-7. Orang yang kebetulan tinggal di dekat laut mempunyai tradisi melarung pohon harapan ke laut sebagai tanda puncak perayaan, tapi kebiasaan ini sekarang makin ditinggalkan orang karena hiasan banyak yang terbuat dari plastik dan akan mengotori air.
Masyarakat Jepang kebanyakan mengikuti perayaan yang di adakan. Tapi tidak sedikit juga yang hanya duduk di dalam rumahnya dan menikmati keramaian pesta dari dalam layar televisi.
Di saat hari peryaan tanabata juga, hiasan yang di pasang di pertokoan menjadi sebuah daya tarik bagi turis. Hal tersebut dapat menjadi sebuah keuntungan dari segi finansial.
Legenda
Legenda Tanabata di Jepang dan Tiongkok mengisahkan bintang Vega yang merupakan bintang tercerah dalam rasi bintang Lyra sebagai Orihime (Shokujo), putri Raja Langit yang pandai menenun. Di suatu tempat di langit, hiduplah bintang Altair yang berada di rasi bintang Aquila dikisahkan sebagai pengembala sapi (Kengyuu) bernama Hikoboshi. Dia adalah seorang pemuda yang sangat rajin.
![]() |
| Gambar 17 Legenda Tanabata |
Setelah sekian lama orihime dan Hikoboshi menikah, mereka terlalu merasa bahagia, hingga melupakan pekerjaannya masing-masing. Oleh karena itu raja langit pun marah dibuatnya. Maka dia memutuskan untuk memisahkan Orihime dan Hikoboshi dengan menghancurkan jembatan yang digunakan untuk menyebrangi Amanokawa. Tentu saja Orihime merasa sedih dibuatnya. Raja langit merasa tidak tega melihat anaknya terus murung. Sehingga akhirnya dia memperbolehkan mereka untuk bertemu hanya sekali dalam setahun, yaitu pada tanggal tujuh juli. Sekawanan burung kasasagi terbang menghampiri Hikoboshi dan Orihime yang sedang bersedih dan berbaris membentuk jembatan yang melintasi sungai Amanogawa supaya Hikoboshi dan Orihime bisa menyeberang dan bertemu. Apabila pada hari itu ternyata hujan, maka air sungai yang meluap membuat Orihime dan Hikoboshi tidak dapat bertemu. Maka Orihime selalu berdoa kepada dewa bintang dengan menuliskan sajak berupa harapan di atas kertas warna warni yang kemudian digantungkan pada batang pohon bambu.
Hiasan Tanabata
Beberapa hiasan atau aksesoris pada tanabata adalah :
1. Daun bambu (sasa) digunakan sebagai hiasan dalam perayaan karena dipercaya sebagai tempat tinggal arwah leluhur.
2. 短册; Tanzaku : kertas untuk menulis permohonan ( hijau merah kuning putih hitam)
3. 纸衣; Kamigoromo : baju kertas, yang dipercayai dapat membuat kita pandai menjahit
4. 折り鶴; Orizuru : origami berbentuk bangau, simbol untuk umur panjang
5. 巾着; Kinchaku : bisnis yang baik
6. 投网; Toami: jala, agar dimudahkan dalam mencari ikan
7. くずかご; Kuzukago: keranjang sampah, simbol kebersihan
8. 吹き流し; Fukinagashi: pita yang menjulur-julur, biasanya berwarna-warni, menandai kebahagiaan
Lagu Tanabata
Ada sebuah lagu rakyat mengenai festival tanabata yang berjudul tanabatasama. Lagu ini menceritakan tentang hiasan tanabata yang dipasang di depan rumah-rumah Jepang, biasanya pohon bambu yang ramping diletakkkan di pagar rumah atau depan halaman, hiasan-hiasan dan kertas warna-warninya begitu menarik perhatian. berikut arti dari lagunya :
笹の葉 さらさら軒端に ゆれる Yang artinya :
お星さま きらきら Daun-daun bambu bergoyang menimbulkan desiran pada atap rumah
金銀 すなご Bintang agung berkelap-kelip
ごしきの たんざく私が書いた Bertaburan bagai emas dan perak
お星さま きらきら Pada kertas permohonan yang berwarna warni aku menulis
空から見てる Bintang agung yang berkelap-kelip. Menatapku dari langit
![]() |
| Gambar 18 Hiasan Tanabata |
![]() |
| Gambar 19 Geisha |
Saat mereka mendekati usia magang, okiya akan bernegosiasi dengan geisha senior untuk menjadi mentor magang atau “kakak”.
Sang kakak akan membantu mempromosikan si magang dan mengajarinya seni menghibur di pesta-pesta, mulai dari cara memulai percakapan cerdas sampai cara menuang sake.
Sang kakak akan mendapatkan sebagian upah sebagai biaya pelatihan yang dulu telah diberikannya. Kebanyakan orang mengira geisha adalah pelacur.
Faktanya, geisha sejati jarang terlibat hubungan seksual dengan pelanggannya. Peran utama geisha adalah sebagai penghibur. Para geisha biasanya dipanggil ke pesta dimana mereka bertugas menghidupkan suasana dengan menari, menyanyi, atau acara lain.
Seorang geisha mungkin memiliki pelindung pribadi atau danna. Hubungan ini biasanya bersifat seksual, meskipun terjadi di luar lingkungan kerja normal. Danna pada umumnya seorang pria kaya yang mampu membayar biaya sekolah, pelajaran, resital pribadi, dan bahkan pakaian seorang geisha. Dengan memiliki danna, seorang geisha mampu memutuskan hubungan dengan okiya dan hidup secara mandiri jika dia menginginkannya.
Geisha mempelajari berbagai seni tradisional Jepang dengan serius, bahkan hingga sekarang. Jumlah mereka terus menurun, namun masih ada wanita Jepang yang tetap melakoninya. Wilayah Jepang yang paling terkenal dengan geishanya adalah Kyoto.
Wisatawan masih bisa melihat gadis-gadis muda ini memakai kimono penuh ornamen danmenjalankan peran tradisional berusia berabad-abad sebagai penghibur
![]() |
| Gambar 20 Film tentang Geisha |
Ketrampilan apa yang harus dimiliki oleh seorang Geisha?
1. Kemampuan menari tradisional.
2. Kemampuan menyanyi.
3. Kemampuan berkomunikasi.
4. Kemampuan melawak
Kerahasian yang tidak boleh dilakukan oleh seorang Geisha pada saat dia menghibur dan mereka harus pandai merahasiakan hal tersebut :
1. Tidak boleh terlihat sedih, apalagi menangis.
2. Tidak boleh menerima dan memberi cinta.
3. Tidak boleh memilih cinta.
4. Tidak boleh terlihat emosional apalagi melakukan kekerasan.
Kimono
Kimono adalah pakaian tradisional Jepang. Arti harfiah kimono adalah baju atau sesuatu yang dikenakan (ki berarti pakai, dan mono berarti barang).
Pada Zaman Heian Menurut aristokrat bernama Sugawara Michizane, penghapusan Kentoshi (utusan Jepang untuk Dinasti Tang) memicu pertumbuhan budaya lokal yang ditandai dengan ketetapan resmi tata cara berbusana dan standarisasi protokol untuk upacara-upacara formal. Sayangnya hal ini berakibat pada semakin rumitnya gaya pakaian zaman Heian. Wanita pada zaman Heian mengenakan pakaian berlapis-lapis yang disebut Junihitoe.
Zaman Kamakura dan Zaman Muromachi Kekuasaan pemerintahan beralih ke tangan para samurai di zaman Sengoku. Prajurit samurai mengenakan pakaian bernama Suikan, yang perlahan-lahan berubah menjadi pakaian yang disebut Hitatare yang kemudian pada zaman Muromachi dijadikan pakaian resmi kaum samurai.
Zaman Meiji dan Zaman Taisho Pada zaman Meiji, orang-orang dari golongan bangsawan istana berlomba mengganti kimono dengan pakaian ala Barat supaya tidak dianggap kuno.
Seragam militer dikenakan oleh laki-laki yang mengikuti dinas militer, sedangkan model seragam sekolah anak laki-laki ditiru dari model seragam tentara angkatan darat. Seragam anak sekolah juga menggunakan model kerah berdiri yang mengelilingi leher dan tidak jatuh ke pundak (stand-up collar) persis model kerah seragam tentara. Wanita Jepang pada zaman Meiji semuanya masih mengenakan kimono, kecuali wanita bangsawan dan guru wanita yang bertugas mengajar anak-anak perempuan. Pada zaman Taisho periode lanjut, seiring dengan kebijakan pemerintah yang memiliterisasi seluruh negeri, seragam anak sekolah perempuan yang selama ini berupa Andon Hakama (kimono dengan celana Hakama) diganti dengan pakaian ala barat yang disebut Serafuku, yakni setelan rok dan baju blus yang mirip yang sering dipakai oleh pelaut. Zaman Showa Di zaman perang, pemerintah membagi-bagikan pakaian seragam untuk penduduk laki-laki. Pakaian seragam untuk laki-laki disebut Kokumin fuku, sedangkan pemerintah memaksa para wanita untuk memakai Monpei (celana panjang untuk kerja yang berkaret di bagian pergelangan kaki).
Perang Dunia II berakhir dengan kekalahan Jepang. Wanita Jepang merasa lega karena perang sudah berakhir dan kembali terpikat pada keindahan kimono. Tapi zaman cepat berganti, kimono tidak mungkin menandingi kepopuleran pakaian ala Barat yang praktis untuk dipakai sehari-hari, sehingga jumlah orang Jepang yang memakai kimono menjadi berkurang sedikit demi sedikit.
![]() |
| Gambar 21 Kimono untuk pria |
Kimono sekarang ini lebih sering dikenakan wanita pada kesempatan istimewa. Wanita yang belum menikah mengenakan sejenis kimono yang disebut furisode. Ciri khas furisode adalah lengan yang lebarnya hampir menyentuh lantai. Perempuan yang genap berusia 20 tahun mengenakan furisode untuk menghadiri seijin shiki. Pria mengenakan kimono pada pesta pernikahan, upacara minum teh, dan acara formal lainnya. Ketika tampil di luar arena sumo, pesumo profesional diharuskan mengenakan kimono.[2] Anak-anak mengenakan kimono ketika menghadiri perayaan Shichi-Go-San. Selain itu, kimono dikenakan pekerja bidang industri jasa dan pariwisata, pelayan wanita rumah makan tradisional (ryōtei) dan pegawai penginapan tradisional (ryokan).
Pakaian pengantin wanita tradisional Jepang (hanayome ishō) terdiri dari furisode dan uchikake (mantel yang dikenakan di atas furisode).Furisode untuk pengantin wanita berbeda dari furisode untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan untuk furisode pengantin diberi motif yang dipercaya mengundang keberuntungan, seperti gambar burung jenjang. Warna furisode pengantin juga lebih cerah dibandingkan furisode biasa. Shiromuku adalah sebutan untuk baju pengantin wanita tradisional berupa furisode berwarna putih bersih dengan motif tenunan yang juga berwarna putih.
Kimono Wanita
• Kurotomesode
Tomesode adalah kimono paling formal untuk wanita yang sudah menikah. Bila berwarna hitam, kimono jenis ini disebut kurotomesode (arti harfiah: tomesode hitam. Kurotomesode dipakai untuk menghadiri resepsi pernikahan dan acara-acara yang sangat resmi.
• Irotomesode
Tomesode yang dibuat dari kain berwarna disebut irotomesode (arti harfiah: tomesode berwarna). Kimono jenis ini dipakai oleh wanita dewasa yang sudah/belum menikah. Kimono jenis irotomesode dipakai untuk menghadiri acara yang tidak memperbolehkan tamu untuk datang memakai kurotomesode, misalnya resepsi di istana kaisar.
• Furisode
Furisode adalah kimono paling formal untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan berwarna-warni cerah dengan motif mencolok di seluruh bagian kain. Ciri khas furisode adalah bagian lengan yang sangat lebar dan menjuntai ke bawah. Furisode dikenakan sewaktu menghadiri upacara seijin shiki, menghadiri resepsi pernikahan teman, upacara wisuda, atau hatsumode.
• Homongi
Hōmon-gi adalah kimono formal untuk wanita, sudah menikah atau belum menikah. Homongi dipakai sewaktu menjadi tamu resepsi pernikahan, upacara minum teh, atau merayakan tahun baru.[3]
• Iromuji
Iromuji adalah kimono semiformal, namun bisa dijadikan kimono formal bila iromuji tersebut memiliki lambang keluarga (kamon). Bila menghadiri upacara minum teh, cukup dipakai iromuji dengan satu lambang keluarga.
• Tsukesage
Tsukesage adalah kimono semiformal untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Tsukesage dikenakan untuk menghadiri upacara minum teh yang tidak begitu resmi, pesta pernikahan, pesta resmi, atau merayakan tahun baru.
• Komon
Komon adalah kimono santai untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Komon dikenakan untuk menghadiri pesta reuni, makan malam, bertemu dengan teman-teman, atau menonton pertunjukan di gedung.
• Tsumugi
Tsumugi adalah kimono santai untuk dikenakan sehari-hari di rumah oleh wanita yang sudah atau belum menikah. Kimono jenis ini boleh dikenakan untuk keluar rumah seperti ketika berbelanja dan berjalan-jalan dan dulunya dikenakan untuk bekerja di ladang.
• Yukata
Yukata adalah kimono santai yang dibuat dari kain katun tipis tanpa pelapis untuk kesempatan santai di musim panas. Biasa di pakai pada saat festival musim panas.
Kimono Pria
Kimono pria dibuat dari bahan berwarna gelap seperti hijau tua, coklat tua, biru tua, dan hitam.
• Kimono paling formal berupa hakama dan haori
hakama dan haori merupakan busana pengantin pria tradisional. Setelan ini hanya dikenakan sewaktu menghadiri upacara sangat resmi, misalnya resepsi pemberian penghargaan dari kaisar/pemerintah atau seijin shiki.
• Kimono santai kinagashi
Pria mengenakan kinagashi sebagai pakaian sehari-hari atau ketika keluar rumah pada kesempatan tidak resmi. Aktor kabuki mengenakannya ketika berlatih.
Upacara Minum Teh
Upacara mninum teh adalah ritual traditional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu dan pada zaman dulu disebut cha to atau cha no yu. Upacara minum teh diluar di sebut nodate. Teh di siapkan secara khusus oleh orang yang mendalami seni upacara minum teh dan di nikmati sekelompok tamu di ruangan khusus untuk minum teh yang disebut cha shitsu. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu seperti memilih lukisan dinding (kakejiku), bunga (chabana), dan mangkuk keramik yang sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang.The bukan hanya dituang dengan air panas dan diminum tapi sebagai seni dalam arti luas. Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain adalah tujuanhidup.
![]() |
| Gambar 22 Upacara minum teh |
SEJARAH MINUM TEH
Lu Yu (Riku U) adalah seorang ahli teh dari dinasti tang di tiongkok yang menulis buku berjudul classis of tea. Buku ini mengenai sejarah teh, cara menanam teh, sejarah minum teh dan cara membuat dan menikmati teh. Produksi teh dan tradisi minum teh dimulai sejak zaman Heian setelah teh dibawa masuk ke Jepang oleh duta kaisar yang dikirim oleh dinasti Tang.Literature klasik Nihon Koki menulis tentang kaisar Saga yang sangat terkesan dengan teh yang disuguhkan pendeta bernama Eichuse waktu mengunjungi provinsi Omi pada tahun 815. Catatan dalam Nihon Koki merupakan sejarah tertulisan pertama tentang tradisi minum teh di Jepang. Pada masa itu, teh juga masih berupa teh hasil fermentasi setengah matang mirip teh Oolong yang dikenal sekarang ini.
Teh dibuat dengan cara merebus teh ke dalam air panas dan hanya di nikmati di beberapa kuil agama Buddha. Teh belum di nikmati di kalangan terbatas sehingga kebiasaan minum teh tidak sempat terkenal. Di zaman Kamakura, pendeta Eisai dan Dogen menyebarkan ajaran Zen di jepang sambil memperkenalkan matcha yang dibawanya dari tiongkok sebagai obat. Teh dan ajaran Zen menjadi terkenal sebagai unsur utama dalam penerangan spiritual.Penanaman teh lalu mulai dilakukan di mana-mana sejalan dengan semakin meluasnya kebiasaan minum teh.Permainan tebak-tebakan daerah tempat asal air yang diminum berkembang di zaman Mumomachi. Permainantebak-tebakan air minum disebut Tosui dan menjadi terkenalsebagai judi yang disebut tocha.
Pada Tocha permainan tebak-tebakan nama merek the yang diminum. Pada masa itu, perangkat minum teh dari dinasti Tang dinilai dengan harga tinggi. Kolektor perlu mengeluarkan banyak uang hanya untuk bisa mengumpulkan perangkat minum teh dari tiongkok. Acara minum teh menjadi popular dikalangan daimyo yang mengadakan upacara minum teh secara mewah menggunakan perangkat minum teh dari tiongkok. Acara minum teh seperti ini dikenal sebagai Murato Juko. Menurut Juko, minuman keras dan perjudian harus dilarang dari acara minum teh. Acara minum teh juga harus merupakan sarana pertukaran pengalaman spiritual anatar pihak tuan rumah dan pihak yang dijamu. Acara minum teh yang diperkenalkan Juko merupakan asal usul upacara minum teh aliran Wabicha.
Sampai di awal zaman Edo, ahli upacara minum teh sebagian besar terdiri dari kalangan terbatas seperti daimyo dan pedagang yang sangat kaya. Memasuki pertengahan zaman Edo, penduduk kota yang sudah sukses secara ekonomi dan membentuk kalangan menengah atas secara beramai-ramai menjadi peminat upcara minum teh. Kalangan penduduk kota yang berminat mempelajari upacara minum teh disambut dengan tangan terbuka oleh aliran Sansenke dan pecahan aliran senke.
Kepopuleran upacara minum teh menyebabkan jumlah murid menjadi semakin banyak sehingga perlu diatur dengan suatu sistem. Lemo to seido adalah peraturan yang lahir dari kebutuhan mengatur hirarki.























Blog yang menarik, mengingatkan saya akan Tokyo di Kuil Asakusa, kompleks ini menyerupai tatanan jaman Edo, dengan beberapa gapura yang mengesankan, termasuk gapura Kaminarimon atau gapura Halilintar, dengan lentera raksasa yang ikonik , dan pagoda lima tingkat.
BalasHapusSaya mencoba menulis blog tentang hal ini, semoga anda juga suka http://stenote-berkata.blogspot.hk/2018/04/tokyo-di-kuil-asakusa_4.html