Senin, 11 April 2016

CREATIVE INTELLIGENCE

A.    KECERDASAN (Intelligence)

Istilah kecerdasan atau intelligensi (intelligence), secara etimologis berasal dari bahasa Latin  intelligere, yang artinya menghubungkan atau menyatukan satu sama lain. Kecerdasan adalah kualitas bawaan sejak lahir, sebagai hal yang berbeda dari kemampuan yang diperoleh melalui pengalaman individu. (Ency Britannica). Hebert Spenser, menambahkan definisi di atas dengan “diperoleh melalui belajar.” Intelegensi atau kecerdasan adalah kemampuan untuk menerapkan pengetahuan yang sudah ada untuk memecahkan masalah baru. Tingkat intelegensi di ukur dengan kecepatan memecahkan masalah. (Donald Stemer). Harry Adler, Boost Your Intelegence. Kecerdasan mengacu pada kemampuan untuk belajar dan menggunakan hal yang dipelajari untuk penyesuaian terhadap situasi yang tidak dikenal atau pemecahan masalah (Heidenrich,1970).

Menurut Gardener (2002), kecerdasan (intelligence) mencakup 3 hal, yaitu:
1.      Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam hidup manusia,
2.      Kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan, dan
3.      Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang akan memunculkan penghargaan dalam seorang individu.

Ciri-ciri mendasar kecerdasan (intelligence) adalah: to judge well dapat menilai), to comprehend well (dapat memahami secara keseluruhan), dan to reaason well (dapat memberi alasan dengan baik). Selain ciri-ciri mendasar dari kecerdasa, ada faktor-faktor yang berpengaruh pada tingkat kecerdasan seseorang. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan:

1.      Faktor Bawaan atau Biologis
Dimana faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam memecahkan masalah, antara lain ditentukan oleh faktor bawaan.

2.      Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas
Dimana minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu.

3.      Faktor Pembentukan atau Lingkungan
Dimana pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan inteligensi.

4.      Faktor Kematangan
Dimana tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan.

5.      Faktor Kebebasan
Hal ini berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Di samping kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya

B.     KREATIVITAS (Creative)
Kreativitas memiliki berbagai arti, menurut kamus besar bahasa Indonesia, keratif adalah memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; bersifat (mengandung) daya cipta. Sedangkan kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta; daya cipta; perihal berkreasi; dan kekreatifan. 
Daya cipta atau kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau anggitan (concept) baru, atau hubungan baru antara gagasan dan anggitan yang sudah ada. Dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran berdayacipta (creative thinking) (kadang disebut pemikiran bercabang) biasanya dianggap memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternatif, konsepsi sehari-hari dari daya cipta adalah tindakan membuat sesuatu yang baru. Daya cipta di masa kini sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor: keturunan dan lingkungan.
Conny Semiawan mengatakan kreativitas merupakan ekspresi tertinggi dan yang bersifat terintegrasikan, yaitu sintesa dari semua fungsi dasar manusia seperti rasio, intuisi, rasa dan talen cipta. (Perspektif     Pendidikan Anak Berbakat, hal, 51-52). Sedangkan Utami Munandar menyimpulkan konsep kreativitas dengan pendekatan Empat P, Yaitu: Pribadi, Proses, Produk, dan Pendorong. Yang  pengertian definisinya sebagai berikut:
a.       Definisi Pribadi
Kreativitas muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya. (Hulbeck). Kreativitas merupakan titik pertemuan yang khas antara 3 atribut psikologis: intelegensi, gaya kognitif, kepribadian/motivasi. 
b.      Definisi Proses
Kreativitas nampak di dalam cara menemukan masalah, kesulitan, informasi yang salah, unsur-unsur yang salah, hingga menyampaikan hasilnya.
c.       Definisi Produk
Kreativitas menekankan unsur orisinalitas, kebaruan, dan kebermaknaan: Barron dan Vernon menyatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru. Ditambahkan oleh Haefele bahwa produknya tidak harus slalu baru tetapi kombinasinya. Munandar menambahkan bahwa produknya harus mempunyai makna sosial. 
d.      Definisi Pendorong
Kreativitas menekankan pada faktor pendorong internal yaitu diri sendiri dan eksternal, yaitu lingkungan sosial dan psikologis. Faktor internal termasuk motivasi intrinsik (pendorong internal). Dan lingkungan sosial yang kondusif (pendorong eksternal).

Dilihat dari bebagai pengertian krativitas di atas, dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk aptitude (berpikir kreatif) maupun non aptitude (Afektif), baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.

1)      KETERKAITAN KECERDASAN DAN KREATIVITAS 
Dalam tingkat tertentu terdapat kaitannya antara kecerdasan dan kreativitas.
·         Bergantung pada faktor ekstern dan intern. 
·         Getzels dan Jackson (1962) membuat empat kelompok keterkaitannya: 
Ø Kreativitas rendah - intelegensi rendah. 
Ø Kreativitas rendah - intelegensi tinggi. 
Ø Kreativitas tinggi - intelegensi tinggi. 
Ø Kreativitas tinggi - intelegensi rendah. 

Selain keterkaitan di atas, antara kecerdasan dengan kreativitas juga memiliki perbedaan. Guilford melihat pada perbedaan proses berpikir:
·         Kecerdasan (Intelegensi) cenderung berpikir Konvergen: yaitu proses berpikir memusat dengan penekanan pada pencapaian jawaban tunggal yang paling tepat. (Otak Kiri).

·         Kreativitas cenderung berpikir Divergen, yaitu: proses berpikir menyebar dengan penekanan pada segi kesesuaian. (Otak Kanan).

Creative Intelligence melibatkan sejumlah factor, dan semuanya bisa dipelajari dan dikembangkan sehingga kita dapat meningkatkan kreativitas. Faktor-faktor tersebut adalah :
1 Otak Kiri/Kanan., Kemampuan untuk menggunakan, dalam berkerjasama satu sama lain, keterampilan masing-masing otak kiri dan kanan.
2. Pembuatan – Catatan/Mind=Mapping. Kemampuan untuk “membuat pikiran kita melihat” dengan mengeluarkannya dari kepala dan menuliskannya di atas kertas, sehingga kita dapat menjelajahinya dengan lebih cermat.
3. Kelancaran. Kecepatan mengeluarkan gagasan baru, Kelancaran merupakan ukuran produktivitas kreatif.
4. Fleksibilitas. Kemampuan untuk memproduksi berbagai gagasan, kemudian beralih dari satu cara ke cara lain dengan menggunakan berbagai strategi, merupakan fleksibilitas kreatif kita. Termasuk dalam fleksibilitas tersebut adalah kemampuan kita untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut, mempertimbangkan sesuatu dari sudut pandang yang lain, mengambil konsep-konsep lama dan menyusunnya kembali dengan cara yang baru, dan memutarbalikkan gagasan yang belum muncul. Yang juga termasuk dalam fleksibilitas adalah kemampuan menggunakan semua indra ketika menciptakan gagasan baru.
5. Keaslian atau orisinilitas adalah salah satu hakikat Creatif Intelligence dan berfikir kreatif. Orisinilitas memperlihatkan kemampuan untuk menghasilkan gagasan yang kita miliki – yang tidak biasa, unik, dan “esentrik” (yang arti harfiahnya adalah “jauh dari pusat”).
6. Pengembangan Gagasan. Pemikir yang kreatif akan memegang gagasan pokok yang kemudian dijadikan sebagai dasar untuk mengembangkan, memperluas, merancang, dan biasanya akan menguraikan pemikiran yang asli secara terperinci.
7. Pemikiran yang kreatif akan memanfaatkan kenyataan bahwa otak manusia laksana “Mesin Asosiasi” raksasa. Karena memiliki beberapa pengetahuan naluriah tentang cara kerja Mesin ini, para pemikir yang kreatif mampu memasuki sumber abadi ini untuk meningkatkan semua aspek Kreativitasnya.

Contoh : 
ketika duduk di bangku sekolah dasar, kita disuruh guru untuk menggambar pesawat, sementara kita tidak tahu bagaimana caranya menerjemahkan bentuk pesawat yang ada dalam benak kita ke dalam sebuah gambar. Kita lalu melihat bagaimana teman-teman kita melakukannya, tetapi sang guru dengan keras melarang kita untuk mencontek. Kita lalu berusaha keras untuk menggambar. Setelah gambar selesai, apa terjadi? Teman-teman di sekitar kita atau bahkan sang guru sendiri mengatakan gambar kita jelek. Hanya gambar-gambar yang bagus saja yang dipajang di dinding sekolah. Walhasil, kita merasa bahwa kita tak punya bakat menggambar dan yakin bahwa kita memang tak bisa menggambar. Atau dengan kata lain, peristiwa tersebut telah “membungkam” hasrat kreatif kita sehingga untuk seterusnya, kita menganggap diri kita tidak kreatif.

Kecerdasan kreatif atau creative intelligence dalam arti sederhana adalah kemampuan seseorang memecahkan persoalan sehari-hari. Kecerdasan kreatif berkaitan dengan cara kita melakukan berbagai hal dan juga hasil yang dicapai. Suatu aktifitas bisa dianggap kreatif kalau melibatkan suatu pendekatan baru atau unik, dan jika hasilnya dianggap berguna serta dapat diterima.
Kecerdasan kreatif berbeda dengan apa yang biasa kita sebut kecerdasan umum, karena kreatifitas berfokus pada cara berfikir dan hasrat untuk mencapai sesuatu yang baru atau berbeda. Tipe kecerdasan kreatif menurut Alan J. Rowe ada empat yaitu:
1. Intuitif. Tipe ini menggambarkan individu-individu yang banyak akal dan menekankan pada pencapaian hasil, kerja keras, dan kemampuan menyelesaikan masalah, tipe ini berfokus pada hasil, menggunakan akal sehat, dan mengandalkan pengalaman pada masa lalu.
2. Inovatif. Tipe ini menggambarkan individu yang selalu ingin tahu, menekankan pada daya cipta, eksperimen, dan sistematika informasi, tipe ini mengatasi kompleksitas dengan mudah.
3. Imaginatif. Tipe ini menggambarkan individu-individu yang penuh pemahaman dan mampu mengidentifikasi peluang potensi, tipe ini juga bersedia mengambil resiko dengan melanggar tradisi, mempunyai pikiran yang terbuka dan sering mengandalkan humor untuk menyampaikan gagasannya.
4. inspirasional. Tipe ini menggambarkan individu-individu yang penghayal, mempunyai sudut pandang yang positif dan berorientasi pada aksi terhadap kebutuhan masyarakat dan bersedia untuk mengorbankan diri demi mencapai tujuannya. Tipe ini berfokus untuk memperkenalkan perubahan demi membantu sesamanya.
Kreativitas seseorang sangat bergantung kepada keadaan masyarakat tersebut berada (faktor survival, prestige, ekonomi, dan politik menjadi sangat penting). Kreativitas tumbuh pada lingkungan yang kondusif; kreativitas tidak berkembang pada lingkungan yang stagnan. Pada gilirannya, kreativitas dan inovasi dari suatu masyarakat atau bangsa akan sangat menentukan nasib bangsa tersebut di dalam sejarah.
Adakah cara yang dapat meningkatkan potensi kreatif kita? 
1. Belajar dari orang lain, dengan menilik kehidupan orang-orang terkenal, yang telah menunjukkan kemampuan kreatifnya. Seperti apakah mereka? Faktor-faktor apa atau kondisi bagaimana yang membantu mereka menjadi kreatif?
2. Keterbukaan akan pemikiran/ide hal-hal yang baru. Jangan ragu untuk belajar hal-hal yang baru.
3. Selalu berusaha menambah kemampuan untuk memecahkan masalah.
4. Tentukan waktu yang tepat untuk belajar. Ada orang yang cocok belajar di pagi hari, ada pula yang di siang hari. Selesaikan masalah, atau tugas-tugas di waktu yang tepat itu.
5. Giat menimba ilmu pengetahuan, dan terus-menerus mencari informasi baru. Bila kita berhenti mencari informasi atau pengetahuan baru, maka kita akan merasa otak kita tumpul, karena lama tidak diasah. Maka kita harus belajar secara rutin dan terus-menerus. Belajar dan melatih kemampuan yang baru didapat dengan berulang-ulang akan mengubah organisasi internal otak, yang pada akhirnya akan sangat membantu dalam melakukan proses mengingat. Jadi kuncinya adalah berlatih, berlatih, dan berlatih.
6. Catatlah hal-hal yang dianggap penting, karena bila kita lupa, kita bisa membuka catatan. Curahkan perhatian pada hal-hal penting tersebut.
7. Membuat hubungan antara informasi yang baru dengan informasi yang lama, berusaha menemukan solusi lain dari masalah berdasarkan rangkaian informasi. Sehingga kemampuan untuk merestrukturisasi konsep/informasi yang telah ada dan/atau memasukan unsur asing pada konsep/informasi tersebut perlu dilatih terus.
8. Memupuk keberanian untuk berfikir dan bertindak berbeda serta mengambil resiko
9. Berada pada lingkungan yang kondusif terhadap tumbuh dan berkembangnya imajinasi. Hindari hal-hal yang yang menghambat kreatifitas anda, misal tempat yang bising akan menghambat imajinasi anda. Tempat yang nyaman, dan rasa cinta akan menumbuhkan ide kreatif dalam diri anda. Bila kita mencintai suatu pekerjaan, maka akan banyak ide kreatif muncul.
10. Adanya curiosity (kepenasaranan), inquisitive (keinginan untuk menyelidiki), serta kemauan untuk bekerja keras.
11. Berikan kesempatan kepada ide-ide kita untuk terwujud. Bila kita telah memiliki ide baru, segera tuangkan ide tersebut, jangan ditunda-tunda. Ide anda itu pasti sangat cemerlang. Yakinlah. Wujudkan ide anda, luangkan waktu untuk mewujudkan ide anda walau sejenak. Bila berhasil, maka sejenak waktu yang telah anda luangkan, akan memberikan kepuasan dalam waktu berlipat ganda dari ketika anda meluangkan waktu untuk mewujudkan ide tersebut.
12. Berkumpullah dengan orang-orang yang anda anggap kreatif, jadikan mereka sumber untuk mendapatkan kreatifitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar